Halaman

Kamis, 22 Maret 2012

Refleksi Kepemimpinan

Pertarungan politik pada wilayah pemilihan kepala daerah akan selalu memunculkan perdebatan-perdebatan progresif pada area isu yang mengalir dalam aroma persaingan dari para tokoh yang bertarung. Kekuatan persepsi dan pemahaman terhadap isu akan terus terpolarisasi dalam statemen yang mencuat dan terblow-up oleh kekuatan media yang ada. Diskursus isu akan terus bermain dan tertanam dalam interaksi sosial sehingga diharapkan konstituen yang dituju dapat memaknai dan mampu menetapkan pilihan terhadap isu yang ada yang secara tidak langsung akan mengarah pada figur darimana isu tersebut mengalir.
Diskursus yang sering menjadi tematik potensial dalam aroma politis adalah perdebatan kelayakan kepemimpinan, kalangan tua atau kalangan muda. Kalangan tua dianggap masih bersifat konservatif dan memiliki respon yang dianggap lambat dalam persoalan yang muncul. Sedangkan kalangan muda dianggap memiliki kekuatan yang progresif dan lebih responsif dalam zaman yang berjalan. Perdebatan kedua poin ini akan terus menjadi ajang unjuk kekuatan persepsi dan image dalam pengolahan isu sehingga pada akhirnya tak akan menemui titik temu dan hanya menjadi perbincangan mengambang dan menjadi bumbu tetap dari setiap pertarungan politik yang muncul.
Oleh karena itu, pertarungan tua dan muda tidak lagi signifikan untuk menjadi bahan perdebatan karena hanya akan menguras energi. Kekuatan kepemimpinan terletak pada kemampuan dan kemapanan dalam memanage dan mengolah kelebihan dan kekurangan area/wilayah yang akan dibawahinya. Kekuatan isu, visi, misi dan arah kepemimpinan menjadi sebuah keharusan bagi figur dari calon pemimpin yang ada. Perdebatan antara kalangan muda dan tua menjadi sesuatu yang basi dan tidak konstruktif lagi dalam dinamika politik dengan beragam tema sosial yang muncul. (de-echa PALLEKO : 22032012_22.35wita)

1 komentar: